Kamis, 14 Maret 2013

Takdir


1.    PENGERTIAN IMAN
Kata “Iman” berasal dari bahasa arab, menurut pengertian bahasa  “Kepercayaan” (faith). Adapun menurut pengertian agama telah dirumuskan oleh Nabi sendiri dalam salah satu hadits :
“ Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab suci-Nya, para rasul-Nya, Hari kemudian, dan engkau percaya kepada Takdir dan buruknya.”
Dari hadits Nabi inilah asal mulanya ajaran tentang enam rukun Iman yang terkenal.
2.    PENGERTIAN QADA DAN QADAR (TAKDIR)
Qadha dan Qadhar dalam pembicaraan sehari-hari selalu disebut dengan Takdir.
*      Qadha’ menurut bahasa memiliki beberapa makna yang berbeda menurut perbedaan struktur kalimatnya, di antaranya berarti :
a.    Hukum, artinya menghukumi, memutuskan.
b.    Perintah, seperti firman Allah SWT : dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.(QS. Al- isra :23).
c.    Kabar, seperti firman Allah : dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, Yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.(Qs. Al-Hijr :66).
d.    Menghendaki
Arti ini dipakai dalam ayat : “Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia.”
*      Adapun Qhadar maka ia adalah Takdir, yaitu menentukan atau membatasi ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya di Lauhul mahfuzh. Firman Allah SWT : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut (Qadhar) ukuran.(QS. Al-Qamar :49).

Makna kata takdir juga bisa berarti ketetapan yang telah dibuat oleh Allah Swt menurut ilmu dan sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan kata lain, segala sesuatu yang telah terwujud di masa lalu, di masa kini maupun di masa yang akan dating, semuanya telah ditetapkan kewujudannya oleh Allah Swt. berdasarkan pada ilmu dan kehendak-Nya. Atau, dengan bahasa yang lebih urai dapat dikatakan, bahwa segala sesuatu yang pernah ada atau yang akan ada di masa mendatang telah ditetapkan oleh Allah Swt. berdasarkan ilmu dan kehendak-Nya.
Qadha adalah hukum Allah yang telah dia tentukan untuk alam semesta ini, dan dia jalankan alam ini sesuai dengan konsekuensi hukumNya dari sunnah-sunnah yang dia kaitkan antara akibat dengan sebab-sebabnya, semenjak dia menghendakinya sampai selama-lamanya, maka setiap apa yang terjadi di alam ini adalah berdasarkan takdir yang mendahuluinya. Ini sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah dan yang telah di atur. Maka apa yang terjadi berarti dia itu telah ditakdirkan dan ditentukan QadhaNya olehNya, dan apa yang belum terjadi berarti belum ditakdirkan dan belum ditentukan Qadhanya. Apa yang ditakdirkan bukan bagianmu, tidak akan mengenaimu dan apa yang ditakdirkan mengenai kamu, tidak akan meleset bagimu.
*      Perbedaan antara qadha dan qadhar
Qadhar  atau takdir ialah sesuatu yang belum ditetapkan benar-benar secara final (rencana pokok,master plan yang belum di ambil keputusan menjalankan), jadi masih bisa diharapkan akan di ubah oleh Allah atas kehendaknya. Dan apabila sudah ditetapkan(di qadha’kan) maka tak dapat di ubah lagi (makhluk tak dapat mengelak/menolaknya), seperti kasus Maryam yang melahirkan Nabi Isa tanpa disentuh oleh seorang manusiapun. Sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an surat Maryam ayat 20-21 : 20. Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" .”21. Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".
Menurut al-Ragib, “Qadhar” ialah batas/ukuran yang ditetapkan allah SWT untuk semua ciptaannya. Dan Qadha ialah keputusan Allah terhadap suatu peristiwa.

3.    KONSEP IMAN KEPADA TAKDIR (QADHA DAN QADHAR)
*        Iman kepada Qadhar/Takdir Allah artinya :
a)    Percaya bahwa Allah itulah yang menjadikan segala makhluknya dengan kodrat (kekuasaan), iradat (kehendak), dan hikmah-Nya (kebijaksanaan) sebagaimana tersebut dalam surat al-Furqan ayat 2: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053].” (QS.al-Furqan :2)
[1053] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.
b)    Percaya bahwa Allah mempunyai beberapa sunnah/hukum dalam menciptakan makhluk-Nya. Sunah/hukum Allah ini tetap berlaku sepanjang masa, dan tidak akan berubah-ubah. Misalnya hukum tuhan yang bersifat universal, yang berlaku untuk semua ciptaan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surat al-A’la ayat 2-3 : 2. yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), 3. dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (QS. Al-A’la :2-3).
Dengan memperhatikan surat al-A’la ayat 2-3 tersebut dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya, dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa ada empat hal yang berlaku untuk semua ciptaan Allah SWT, ialah :

*      Khalaq (creation) : diciptakan Allah
*      Taswiyah (completion) : disempurnakan-Nya
*      Takdir (measure) : ditetapkan ukuran/batasan-Nya
*      Hidayah (guidance) : diberi petunjuk

Makna beriman kepada Qadhar (Takdir) juga berarti percaya bahwa semua yang terjadi, baik atau pun buruk, semua terjadi atas izin Allah swt. Meskipun manusia diberi hak untuk menetapkan pilihan atau berkehendak, tetapi Allah Swt yang menciptakan dan sekaligus memutuskan hasil dari terlaksanakannya kehendak manusia itu. Segala sesuatu yang dikehendaki manusia tidak akan terjadi jika tidak sesuai dengan kehendak Allah Swt. Jika Allah ‘Azza Wa Jalla tidak berkehendak terhadap sesuatu, maka hal itu tidak akan ada masa maupun tempatnya. Andaikata Allah Swt tidak menghendaki sesuatu untuk selama-lamanya, maka sesuatu tersebut tidak akan pernah terjadi.. Seperti firman Allah : 22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 23. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,
[1459] Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.
Ayat-ayat tersebut membuktikan bahwa segala yang terjadi pada alam semesta dan pada jiwa manusia, yang baik maupun yang buruk, semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk. Maka apa yang tidak didapatkan dari suatu yang disukai tidak mengharuskan rasa susah dan apa yang didapatkan dari kebaikan tidak mengharuskan rasa suka.
Semua yang ditakdirkan Allah adalah untuk sebuah hikmah yang diketahui olehNya. Allah tidak pernah menciptakan kejelekan yang murni, yang tidak melahirkan suatu kemaslahatan. Maka kejelekan dan keburukan tidak di-Nisbat-kan kepadaNya dari sudut pandang sebagai keburukan yang murni, akan tetapi ia masuk dalam rentetan makhlukNya.
Segala sesuatu apabila di-Nisbat-kan kepada Allah adalah keadilan, hikmah dan rahmat. Maka keburukan murni tidak termasuk kedalam sifat Allah dan tidak juga kedalam perbuatanNya. Dia memiliki kesempurnaan mutlak. Hal ini ditunjukan firmanNya : 79. apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.(Qs. An-Nisaa : 79).
Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan yang diterima manusia adalah berasal dari Allah. Sedangkan keburukan yang menimpanya adalah karena dosa dan kemaksiataannya. Tidak seorangpun bisa lari dari takdir yang telah ditetapkan Allah, pencipta manusia. Tidak ada yang terjadi didalam kerajaanNya ini melainkan apa yang dia kehendaki, dan Allah tidak meridhai kekufuran untuk hambaNya. Dia telah menganugerahi manusia kemampuan untuk memilih dan berikhtiar. Maka segala perbuatan nya adalah terjadi atas kemampuannya dan kemauannya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki karena hikmahNya. Tidak ditanya apa yang dia lakukan, tetapi merekalah yang akan ditanya tentang amal perbuatan mereka. Oleh karena itu iman kepada Takdir memberikan arti dimana kita wajib mempercayai bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini, dalam kehidupan dan diri manusia adalah menurut hukum, berdasarkan suatu undang-undang uviversil atau kepastian umum atau Takdir.
Sebagai contoh :
Pertama, bahwa jagat-raya ini isinya antara lain bintang-bintang, dan planet-planet yang semuanya berjalan menurut “hukum Universil”, dalam rotasi, revolusi dan ketimbangan benda-benda langit begitu juga isinya. Yang terdiri dari berbagai jenis benda (padat,cair,dan gas), telah tersusun oleh suatu rumus-rumus tertentu. Ada pula hokum “gravitasi”  (gaya-berat) yang ditemukan oleh Newton . masih banyak lagi dalil-dalil fisika yang telah ditemukan, dan yang belum ditemukan adalah jauh lebih banyak. Semua itu adalah hokum universil (Taqdir) Allah terhadap makhluknya.
Kedua, bahwa dalam diri kita ada roh, dengan roh itulah kita hidup. Akan tetapi kita sama-sekali tidak punya kekuasaan terhadap roh itu. Manakala ia akan memisahkan diri dengan jasmani kita ia tidak akan memandang usia dan kedudukan, kita tidak mampu menahannya dan untuk itu tibalah akhir hayat kita. Begitulah Takdir tuhan. Manusia dalam takdir tuhan!
Ketiga, bahwa setiap manusia lahir kedunia, bukanlah atas kehendaknya sendiri. Manusia lahir tidak memilih bangsa dan tanah air. Semuanya terlepas dari kehendak dan kekuasaan manusia. Padahal bentuk kehidupan seseorang ditentukan oleh derajat pendidikan, social dan rumah-tangganya dimana ia lahir. Masalah ini semuanya bergantung kepada kehendak dan kekusaan Allah semata-mata, berdasarkan atas takdir tuhan.
Keempat, Bahwa pada diri tiap-tiap orang ada yang memiki watak, pembawaan lahir dan bakat yang berbeda satu sama lain. Para ahli dari sosiologi dan psikologi telah menyelediki watak dan pembawaan lahir itulah yang menjadi dasar pertumbuhan seseorang dalam membentuk corak rohaniannya dan secara timbal balik memberikan pengaruh terhadap lingkungannya. Perbedaan perbedaan intelegensi pada manusia mudah nampak pada kita, jika orang harus memcahkan masalah-masalah baru dan soal-soal yang sulit. Yang seseorang dapat memecahkan masalah-masalah atau problem yang sulit, yang seseorang lagi sudah bingung melihat soal yang sederhana saja.tapi yang seorang mudah menolong dirinya dari kesulitan-kesulitan yang seorang dapat juga berlaku demikian, tetapi setelah lama mencari-cari jalan ; yang ketiga samasekali tidak melihat jalan keluarnya (way out) dari kesulitan itu. Demikian lah contoh-contoh praktis dari perbedaan intelegensi yang kita jumpai pada berbagai orang.
Kelima, bahwa tidak pernah terdapat seseorang yang ingin sakit atau gagal. Sehat lahir batin dan sukses, itulah yang selalu menjadi doa dan impian manusia. Karena itulah manusia belajar  tentang kesehatan, ilmu dan metode untuk sukses. Namun kita dihadapkan kepada kenyataan, bahwa pada saat yang tak terduga bahkan pada waktu yang begitu penting bagi kita, secara tiba-tiba jatuh sakit. Suatu urusan yang telah diperhitungkan secara matang, telah pula ditinjau dari berbagai segi, tapi kemudian hanya persoalan kecil saja urusan itu jadi berantakan, gagal. Maka sakit dan gagal bukanlah kehendak manusia. Semuanya adlah peranna takdir, suka atau tidak takdir jua yang berkuasa.
Selanjutnya, mari kita berkelana lagi tentang takdir ini. Kita lihat segi rezki dan keberuntungan manusia. Ada orang yang kerja keras siang malam mencari rezki, tapi rezki itu tak kunjung jua dating menurut yang dicita-citakan. Sebaliknya ada orang yang goyang-goyang kaki saja, namun rezki datnang mengejar dia. Pangkat dan kedudukan demikian pula. Sebaliknya ada orang telah berusaha hendak menjadi orang yang baik. Tiba-tiba dalam separoh perjalanan hidupnya tergoyahlah langkahnya kepada jalan sesat, sehingga dia jadi orang jahat. Kadang-kadang jua ia teringat menjadi orang baik, namun semua habis dalam impian. Walaupun ia benci dan jijik dengan perbuatannya itu sendiri. Hidupnya di akhiri dengan “su’ul khatimah”, di tutup dengan kejahatan. Begitulah takdir Tuhan pada hambanya.

Dengan analisa dimuka menunjukan kekeliruan Ma’bad Al-Juhaeny al-bishry (wafat 699 M) yang telah mendirikan madzhab Qadariyah hidup dan kehidupannya. Disinilah pula kekeliruan kaum Mu’tazilah yang senantiasa melebih-lebihkan kemampuan akal dan melebih-lebihkan kebebasan berbuat manusia.
Percaya kepada takdir Allah  SWT  hendaknya dipahami dan diyakini dengan hati-hati dan didasari dengan iman yang kukuh, pengetahuan yang luas dan ikhlas sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang salah atau terhindar dari aqidah yang menyesatkan. Disamping itu iman kepada takdir tidak boleh menimbulkan sikap malas bekerja, apatis, acuh tak acuh, dan tidak mau berusaha. Kesalahan memahami takdir akan menimbulkan anggapan bahwa manusia itu ibarat robot sehingga tidak mempunyai daya kekuatan dan kekuasaan sedikitpun.
Dalam hal-hal tertentu, manusia mempunyai otoritas atau kebebasan untuk memilih dan berbuat sesuai kodratnya sebagai makhluk. Allah SWT, melalui rasulnya telah memberi petunjuk tentang jalan yang lurus dan harus ditempuh oleh manusia apabila ingin selamat dan bahagia di unia dan akhirat. Manusia melalui otoritasnya itulah yang menentukan sendiri jalan lurus maupun sesat.
Sesungguhnya seseorang yang mengetahui masalah takdir dengan baik, dan sekaligus dapat menangani setiap rahasia yang terdapat dalam Qalbunya, meskipun harus ditempuh setahap demi setahap, adalah seperti seorang yang berhasil menangani segala kesulitannya. Dan, biasanya ia akan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Swt. Sebab, ia memahami makna dari firman Allah berikut : 96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".(QS ASH SAAFFAAT: 96).
Secara umum, segala sesuatu diciptakan oleh Allah Swt. termasuk semua perbuatan manusia, baik perbuatan baik maupun perbuatan jahat. Tetapi hal tersebut bukan berarti Allah Swt. menciptakan kejahatan. Semua yang diciptakan oleh Allah Swt. adalah kebaikan. Kejahatan atau keburukan tidak boleh dinisbahkan kepada Allah Swt.
Sesuatu menjadi baik atau buruk setelah dinisbahkan kepada manusia. Artinya Allah Swt. menciptakan manusia berpotensi untuk melakukan kebaikan dan melakukan kejahatan. Allah Swt. tidak akan perintahkan kepada umat manusia untuk berbuat kebaikan kalau Dia tidak menciptakan manusia itu mampu melakukan kebaikan itu. Begitu pula sebaliknya, Allah Swt. tidak akan larang manusia melakukan kejahatan kalau Dia tidak menciptakan manuisa mampu melakukan kejahatan itu. Dari segi inilah kita meyakini semua perbuatan manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt.
Misalnya kalau Allah tidak menciptakan manusia berpotensi untuk minum khamr, berjudi, berzina, mencuri, dan kejahatan lainnya, tentu tidak perlu Allah melarang mereka melakukan itu semua. Begitu pula sebaliknya, jika Allah tidak menciptakan manusia berpotensi untuk mendirikan shalat, mengerjakan puasa, bersedekah, berjihad, dan amal sholeh lainnya, maka Allah tidak akan memerintahkan manusia untuk melakukannya.Justru disitulah letaknya kebijaksanaan dan keadilan Allah Swt.. dia uji manusia dengan sesuatu yang menusia mampu melakukannya, dan Dia beri balasn yang setimpal dengan hasil ujian masing-masing.
Kalau hal di atas dapat kita pahami tentu tidak akan timbul lagi pertanyaan “Jika Allah Swt adalah yang menciptakan kita dan semua perbuatan kita, lalu mengapa Dia mengadili perbuatan jahat yang kita lakukan, sedang Dia yang menciptakannya?”
Jika seseorang menyandarkan seluruh perbuatannya hanya kepada Allah Swt., maka ia akan berusaha untuk berlepas diri dari segala bentuk keburukan yang akan dan telah (pernah) ia lakukan. Ia akan beranggapan, bahwa kebaikan atau keburukan yang telah maupun akan ia lakukan termasuk bagian dari rangkaian takdir serta ketetapan Allah Swt. Sehingga ia tidak akan pernah menolak untuk bertanggung jawab atas segala bentuk keburukan yang pernah ia lakukan, dan ia tidak akan merasa bangga dengan segala jenis kebaikan yang ia telah (pernah) kerjakan.
Hal-hal yang memiliki kaitan dengan qadha dan qadhar antara lain sebagai berikut :
a.  Ikhtiar
Ikhtiar adalah usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia akhirat terpenuhi.
Keberadaan qadha dan qadhar tentu saja tidak dimaksudkan untuk  membuat manusia menjadi makhluk pasif yang selalu menerima dan tergantung pada sesuatu. Diam dan pasif bertentangan dengan fitrah  manusia dan ajaran tauhid. Oleh karena itu sikap menggantungkan nasib pada takdir Allah SWT tanpa melakukan usaha atau berikhtiar merupakan sikap yang tidak terpuji. ikhtiar juga harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan ketrampilannya. Akan tetapi jika usaha kita gagal, hendaknya kita tidak berputus asa. Kita sebaiknya mencoba lagi dengan keras dan tidak berputus asa. Firman Allah SWT : 87. Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(QS. Yusuf : 87).
Kegagalan dalam usaha , anatara lain dikarenakan keterbatasan dan kekurangan yang terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Apabila gagal dalam suatu uasah itu sendiri, setiap muslim di anjurkan untuk bersabar karena orang yang bersabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah dan berputus asa.
Kepercayaan kepada takdir memberikan keseimbangan jiwa, tidak berputus asa karena suatu kegagalan  dan tidak pula membanggakan diri  atau sombong karena suatu kemujuran. Sebab segala sesuatu tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri, melainkan juga kepada keharusan universal, mengembalikan segala persoalan kepada Allah yang maha kuasa. “Agar kamu tidak menjadi putus asa atas kemalangan yang menimpamu, dan tidak pula terlalu bersuka ria atas kemujuran yang datnang kepadamu.” Iman kepada takdir akan meningkatkan ketaqwaan, bahwa baik keburuntungan dan kegagalan dapat di anggap sebagai ujian dari tuhan. Ujian itu perlu diberikan kepada mereka yang beriman agar sejahtera dan bahagia hidupnya.
b.    Tawakal
Tawakal adalah penyerahan sesuatu kepada Allah SWT. Atau menggantungkan urusan diri kepada Allah SWT sedang kita sendiri tidak mengurangi usaha dan tenaga dalam usaha itu. Setelah berikhtiar, orang yang bertawakal harus mengembalikan masalah yang dihadapinya kepada Allah SWT. Setelah benar-benar berikhtiar, ia berpasrah diri Karena memang tidak ada lagi yang dapat dilakukan, kecuali tergantung kepada Allah SWT dan berdoa. Apapun hasil dari apa yang di ikhtiarkan, akan diterimanya dengan sikap tawakal.
Didalam al-Qur’an dan hadits, terdapat banyak ayat dan hadits yang menunujukan kepada kita, bahwa manusia harus tawakal dan tawakalnya itu harus didahului atau sekurang-kurangnya disertai dengan hal-hal sebagai berikut :
*      Kebulatan tekad/kemauan, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Imran ayat 159 : “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
*      Usaha dan tenaga (Langkah-langkah yang perlu dilakukan)
Yang dapat membawa seseorang untuk mencapai maksudnya, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat al-Anfaal ayat 60 : 60. dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.”
*      Siap mental dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Jika usahanya berhasil, bersyukurlah kepada Allah atas karunia dan pertolonganNya. Dan jika ia gagal, bersabarlah dan tidak berputus asa, serta masih kuat kemauannya untuk berusaha lagi. Perhatikan firman Allah dalam QS. An- nahl ayat 41-42 : 41. dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, 42. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.
*      Macam-macam Takdir
Takdir pertama
Adalah takdir umum (Takdir azali) meliputi segala hal dalam lima puluh ribu sebelum terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan Al Qalam dan memerintahkannya menulis segala apa yang ada sampai hari kiamat. Ini adalah Takdir Azali. Firman Allah : 22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. Al-Hadiid :22).”
Takdir Kedua
Takdir Ummuri, yaitu takdir yang diebrlakukan manusia pada awal penciptaannya, ketika pembentukan air sperma sampai pada masa sesudah itu dan bersifat umum, mencakup rezki, perbuatan, kebahagiaan dan kesengsaraan.
Takdir Ketiga
Takdir Sanawi (tahunan) yaitu yang di catat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun, firman Allah : 4. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah[1370], 5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul,(QS. Ad-Dukhan : 4-5)
[1370] Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.
Takdir Keempat
Takdir Yaumi (harian), yaitu yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang telah ditakdirkan dalam satu hari, mulai dari penciptaan, rezki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan dan lain sebagainya. Sebagai friman Allah : 29. semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadanya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan[1444]. (QS. Ar-rahman : 29)
[1444] Maksudnya: Allah Senantiasa dalam Keadaan Menciptakan, menghidupkan, mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
Takdir ini dan kedua takdir sebelumnya (Ummuri dan sanawi) merupakan penjabaran dari takdir Azali.
*      Tingkatan Beriman Kepada Takdir
Iman kepada Takdir memiliki empat tingkatan :
Tingkatan Pertama
Iman kepada ilmu Allah yang merupakan sifat Allah sejak Azali. Dia mengetahui segala sesuatu. Dia mengusai segala sesuat, tidak ada makhluk sekecil apaun dilangit dan dibumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluknya sebelum Dia menciptakannya. Dia mengetahui kondisi mereka dan hal ihwal mereka dimasa yang akan mendatang, semuanya baik yang rahasia maupun terang-terangan. Firman Allah : 22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hasyr : 22).
Tingkatan Kedua
Mengimani bahwasanya Allah menulis dan mencatat makhlukNya di Lauh mahfuzh. Tidak ada suatu apapun yang terlupakan. Firman Allah : 22. tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. Al-Hadiid :22).
Tingkatan Ketiga
Iman kepada masyiah (kehendak) Allah dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Apa yang dia kehendaki pasti terjadi berkat kekuasaanNya dan apa yang tidak dia kehendaki tidak akan terjadi bukan karena tidak mampu, melainkan karena dia tidak menghendakinya. Allah Berfirman : 29. dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.(QS. At-takwiir : 29).
Tingkatan Keempat
Mengimani bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, tidak ada Khaliq selainNya, dan tidak ada Rabb (Tuhan) selainNya. Hal ini berdasarkan Dalil Allah SWT :  62. Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.(QS. Az-zumar :62).
Dalam ayat-ayat tersebut terdapat pernyataan yang jelas bahwa Allah dialah yang menakdirkan segala sesuatu dan yang menciptakannya. Allah telah menakdirkan dan menciptakan segala yang ada tanpa ada contoh sebelumnya. Allah adalah pencipta orang yang berbuat serta perbuatannya.

4.    HIKMAH IMAN KEPADA TAKDIR (QADHA DAN QADHAR)
Dengan beriman kepada qadha dan qadar (Takdir), banyak hikmah yang amat berharga bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk akhirat.
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari keimanan kepada Takdir ini, antara lain yaitu:
1.    Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sesuai dengan undang-undang, aturan dan hukum yang telah ditetapkan dengan pasti oleh Allah SWT.
2.    Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan diakhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
3.    Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang mutlak, di samping memiliki kebijaksanaan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
4.    Menanamkan sikap tawakkal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah SWT.
5.    Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah SWT.
6.    Banyak bersyukur dan sabar. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar apabila mendapat keberuntungan ia akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri. Sebaliknya jika ia mendapat musibah ia akan bersabar, karena musibah tersebut adalah menjadi ujian. Firman Allah: 53.Artinya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah (datangnya), dan bila ditimpa kemudratan, maka hanya kepada-Nyalah meminta pertolongan.” ( QS. An-Nahl:53)
7.    Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa. Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan, ia menganggap keberhasilan tersebut semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia berkeluh kesah dan berputus asa, karena ia menyadari bahwa kegagalan itu merupakan ketentuan Allah. Firman Allah: 87.Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf:87)
8.    Bersifat optimis dan giat bekerja. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa bersifat optimis dan giat bekerja agar meraih keberhasilan itu. Firman Allah: 77. Artinya: “Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashas:77)
9.    Jiwanya tenang. Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa mengalami ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya. Jika ia berhasil atau beruntung, ia akan bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal, ia akan besabar dan berusaha lagi. 27. Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, 30. masuklah ke dalam syurga-Ku.(QS. Al-Fajr:27-30).

DAFTAR PUSTAKA
Zuhdi,Masjfuk,1993.Studi Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Margiono Dkk,2007.Pendidikan Agama Islam 3.Jakarta:Pertpustakaan Nasional.
Ilyas,Yunahar, 1998.Kuliah Aqidah, Yogyakarta : LPPI UMY.
Bashori,Agus Hasan,2001. Kitab Tauhid, Jakarta : Universitas Islam Indonesia.
Razak,Nasruddin,1971.Dienul Islam, Semarang :Percetakan Offset.
Gulen,Fethullah,2005. Qadar,Ditangan Siapakah Takdir Atas Diri Kita, Jakarta: Republika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar