Kamis, 14 Maret 2013

Model Pmbelajaran Berbasis Masalah


BAB VIII
MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
ATAU PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI)
A.   Pengertian
Model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem Based Instruction) adalah model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik (nyata) sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan yang lebih tinggi memandirikan siswa dan meningkatkan kepercayaan diri siswa (Arends, 1997:288).
Menurut John Dewey (1916,1938), proses belajar hanya akan terjadi kalau siswa dihadapkan kepada masalah dari kehidupan nyata untuk dipecahkan. Dalam membahas dan menjawab masalah, siswa harus terlibat dalam kegiatan nyata. Misalnya mengobservasi, mengumpulkan data dan menganalisisnya bersama kawan-kawan lain dalam kelompok atau di kelasnya.
Para psikologi Eropa, Jean Piaget dan Lev Vygotsky mempunyai peran instrumental dalam mengembangkan konsep konstruktivisme yang banyak menjadi sandaran PBL kontemporer. Perspektif Kognitiv Konstruktivis, yang menjadi landasan PBL, banyak meminjam pendapat Piaget (1954, 1963). Perspektif ini mengatakan, sperti yang juga dikatakan oleh Piaget, bahwa pelajar dengan umur berapapun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan tidak statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan selama pelajar mengkonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memaksakan mereka untuk mendasarkan diri pada dan memodifikasi pengetahuan sebelumnya. Menurut Piaget, pendagogi yang baik itu :
Harus melibatkan penyodoran berbagai situasi dimana anak bisa bereksperimen, dalam artinya yang paling luas-mengujicobakan berbagai hal untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi benda-benda, memanipulasi simbol-simbol, melontarkan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri, merekonsiliasikan apa yang ditmukannya pada waktu yang lain, membandingkan temuannya dengan temuan anak-anak lain. (Duckworth, 1991, hal.2)
Vygotsky (1978,1994) percaya bahwa intelek berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman ini dalam usaha menemukan pemahaman ini, individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengkonstruksikan makna baru. Keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget dalam beberapa hal penting. Bila Piaget memfokuskan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui anak terlepas dari konteks sosial atau kulturnya, Vygotsky menekankan pentingnya aspek sosial belajar. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu pengonstruksian ide-ide baru dan meningkatkan perkembangan intelektual pelajar.
Model pembelajaran berdasarkan masalah bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan konsep-konsep penting. Pendekatan ini mengutamakan proses belajar, tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam pengembangan tingkat berfikir yang lebih tinggi dalam situasi yang berorientasi pada masalah, termasuk pembelajaran bagaimana belajar (Arends, 1997:156).
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks. (Ratumanan, 2002:123).
       Menurut Arends (1997), pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain, seperti “pembelajaran berdarkan proyek (project-based instruction)”, ”pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”, “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”.(Dahar 1998:125).
PBI juga bergantung pada konsep lain dari Bruner, scaffolding, yaitu suatu proses yang membuat siswa dibantu menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan (scaffolding) dari seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih. Peran dialog juga penting, interaksi sosial di dalam dan di luar sekolah berpengaruh pada perolehan bahasa dan perilaku pemecahan masalah anak.(Nur 2000:7).
Boud dan Felleti (1991, dalam Saptono, 2003) menyatakan bahwa “Problem Based Learning is a way of constructing and teaching course using problem as a stimulus and focus on student activity”. H.S. Barrows (1982) menyatakan bahwa PBM adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya.
Pada pembelajaran berdasarkan masalah ini, guru berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah, dan sebagai pemberi fasilitas yang diperlukan siswa. Selain itu, guru memberikan dukungan dan dorongan dalam upaya meningkatkan kecerdasan dan perkembangan intelektual siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah hanya dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan membimbing pertukaran pendapat (Arends,1997). Pembelajaran berdasarkan masalah juga banyak menumbuh kembangkan aktivitas belajar, baik secara individu maupun secara kelompok.
Dalam pembelajaran berdasarkan masalah memerlukan adanya beberapa kemampuan, diantaranya yaitu:       
1.     Kemampuan memecahkan masalah
Kemampuan memecahkan masalah hendaknya diberikan, dilatihkan dan dibiasakan pada siswa sedini mungkin (Branco, 1980:3). Kemampuan memecahkan masalah juga sangat penting bagi siswa yang akan mendalami bidang studi tertentu maupun untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Rusefendi, 1991:291).
2.     Kemampuan berfikir
Menurut Peter Reason (1981), berfikir (thinking) adalah proses mental seseorang yang lebih tinggi dari sekadar mengingat (remembering) dan memahami (comprehending). Menurut Reason mengingat dan memahami lebih bersifat pasif daripada kegiatan berfikir (thinking). Mengingat pada dasarnya hanya melibatkan usaha penyimpanan sesuatu yang telah dialami untuk suatu saat dikeluarkan kembali atas permintaan; sedangkan memahami memerlukan pemerolehan apa yang didengar dan dibaca serta melihat keterkaitan antar-aspek dalam memori. Berfikir adalah istilah yang lebih dari keduanya. Berfikir menyebabkan seseorang harus bergerak hingga di luar informasi yang didengarnya, misalkan kemampuan berfikir seseorang untuk menemukan solusi baru dari suatu persoalan yang dihadapi.
Kemampuan berfikir memerlukan kemampuan mengingat dan memahami, oleh sebab itu kemampuan mengingat adalah bagian terpenting dalam mengembangkan kemampuan berfikir. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki kemampuan mengingat dan memahami memiliki kemampuan juga dalam berfikir. Sebaliknya, kemampuan berfikir seseorang sudah pasti diikuti oleh kemampuan mengingat dan memahami. Hal ini seperti yang dikemukakan Peter Reason, bahwa berfikir tidak mungkin terjadi tanpa adanya memori. Bila seseorang kurang memiliki daya ingat (working memory), maka orang tersebut tidak mungkin sanggup menyimpan masalah dan informasi yang cukup lama.
Pengajaran berdasarkan masalah di lain pihak berdasarkan psikologi kognitif sebagai pendukung teorotis. Fokus pengajaran tidak terlalu banyak pada apa yang dilakukan siswa (perilaku mereka), melainkan apa yang dipikirkan (kognisi mereka) pada saat melakukan kegiatan itu. Walaupun peran guru pada saat pembelajaran berdasarkan masalah kadang melibatkan presentasi dan menjelaskan sesuatu hal kepada siswa, namun yang lebih lazim berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berfikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri.
Guru perlu untuk menyajikan situasi masalah dengan hati-hati atau dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi masalah. Panduan yang diberikan langsung tentang bagimana melaksanakan demonstrasi dapat membantu dalam pembelajaran berdasarkan masalah. Situasi masalah harus disampikan kepada siswa semenarik dan setepat mungkin. Biasanya memberi kesempatan kepada siswa untuk melihat, merasakan dan menyentuh sesuatu dapat memunculkan ketertarikan dan memotivasi inkuiri. Seringkali menggunakan hal-hal yang tak terduga (suatu masalah di mana hasilnya di luar harapan dan mencengangkan) dapat menggungah minat siswa.
B.    Ciri-ciri Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Ciri utama PBL adalah bahwa pengetahuan dicari dan dibentuk oleh siswa dalam upaya memecahkan contoh-contoh masalah dunia nyata yang dihadapkan kepada mereka (Amin, 2003). Jadi dari menghadapi problem, siswa membentuk pengetahuan baru melalui langkah analisis terhadap pengetahuan-pengetahuan baru yang mereka kumpulkan. Ini adalah khas proses pembelajaran dengan PBL. Dalam PBL, masalah dibahas dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam pembahasan ini mereka catat apa saja yang sudah mereka ketahui untuk menjawab masalah dan apa saja yang belum mereka ketahui. Mereka mengumpulkan data dan pengetahuan yang belum mereka ketahui itu dengan menggunakan berbagai sumber. Mereka menganalisis seluruh data dan pengetahuan yang terkumpul, untuk menjawab masalah. Tugas guru adalah mengamati seluruh proses dan memberikan bantuan bila diperlukan.

Adapun ciri-ciri lain model pembelajaran berdasarkan masalah adalah sebagai berikut :
1.      Pengajuan Pertanyaan atau Masalah
PBI mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya   secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Menreka mengajukan situasi kehidupan nyata, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai solusi untuk situasi itu.(Trianto,2009:3).
Pengaturan pembelajaran berdasarkan masalah berkisar pada masalah atau pertanyaan yang diajukan guru dan dianggap penting bagi siswa maupun masyarakat. Menurut Arends (dalam Ratumanan, 200:126), pertanyaan dan masalah yang diajukan itu haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:
a.       Autentik, yaitu masalah harus sesuai dengan pengalaman dunia nyata siswa dari pada dengan prinsip-prinsip disiplin akademik tertentu.
b.     Jelas, yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan siswa menyelesaikan masalah tersebut.
c.      Bermakna, yaitu masalah yang diberikan hendaknya bermakna (meaningful) bagi siswa. Selain itu, masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
d.     Luas dan Sesuai dengan Tujuan Pembelajaran, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang, dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e.      Bermanfaat, yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik bagi siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
2.   Keterkaitannya dengan Berbagai Disiplin Ilmu
Masalah yang diajukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah hendaknya mengaitkan atau melibatkan berbagai disiplin ilmu. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Sebagai contoh, masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi, ekonomi, sosiologi, pariwisata, dan pemerintahan.(Hudojo,1998:4).
3.   Penyelidikan yang Autentik
Penyelidikan yang diperlukan dalam pembelajaran berdasarkan masalah bersifat autentik. Selain itu, penyelidikan diperlukan untuk mencari penyelesaian masalah yang bersifat nyata. Siswa menganalisis dan merumuskan masalah, mengembangkan dan meramalkan hipotesis, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat kesimpulan, dan menggambarkan hasil akhir.
4.   Menghasilkan dan Memamerkan Hasil/Karya
Pada pembelajaran berdasarkan masalah, siswa bertugas menyusun hasil penelitiannya dalam bentuk karya (karya tulis atau penyelesaian) dan memamerkan hasil karyanya. Artinya, hasil penyelesaian masalah siswa ditampilkan atau dibuatkan laporannya. Berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”. Produk itu dapat juga berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian, direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah.(Ibrahim,2002:6).
5.
 Kolaborasi
Pada pembelajaran berdasarkan masalah, tugas-tugas belajar berupa masalah yang harus diselesaikan bersamaa-sama antar siswa dengan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar, dan bersama-sama antar siswa dengan guru. Bekerja sama memberi motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan berpikir.(Ibrahim,2002:5)
Dari ciri-ciri di atas terlihat bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah memberi penekanan pada masalah yang autentik dan berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu. Berdasarkan pada masalah tersebut siswa melakukan aktivitas pemecahan masalah/penyelidikan untuk memecahkan masalah tersebut. melalui aktivitas pemecahan masalah/penyelidikan diharapkan siswa dapat menemukan keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang lebih sederhana. Dari uraian ini jelas bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah menggunakan pendekatan top-down yang merupakan salah satu ciri dari pembelajaran berbasis konstruktivisme.
C.   Tujuan pembelajaran dan hasil pembelajaran
Pengajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri (Nurhadi, Burhan & Agus, 2004).
Pembelajaran berdasarkan masalah bertujuan untuk (1) membantu siswa mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah. (2) belajar peran orang dewasa yang autentik, (3) menjadi pembelajar yang mandiri.
Adapun pola hubungan tujuan pembelajaran, proses belajar, dn hal ikhwal yang terjadi pada siswa dalam rangka kemandirian. Secara umum hal-hal tersebut terjadi sebagai berikut:
1.     Guru yang membuat desain instruksional memandang siswa sebagai partners yang memiliki asas emansipasi diri menuju kemandirian. Guru menyusun acara pembelajaran.
2.     Siswa mwmiliki latar pengalaman dan kemampuan awal dalam proses pembelajaran.
3.     Tujuan pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh guru berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tujuan pembelajaran tersebut juga merupakan sasaran belajar bagi siswa menurut pandangan dan rumusan guru.
4.     Kegiatan belajar-mengajar merupakan tindak pembelajaran guru dikelas. Tindak pembelajaran tersebut menggunakan bahan belajar. Wujud bahan belajar tersebut adalah bidang studi di sekolah.
5.     Proses belajar merupakan hal yang dialami oleh siswa, suatu respon terhadap segala acara pembelajaran yang diprogramkan oleh guru. Dalam proses belajar tersebut , guru meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.
6.     Perilaku siswa merupakan hasil proses belajar. Perilaku tersebut dapat berupa perilaku yang tak dikehendaki dan yang dikehendaki. Hanya perilaku-perilaku yag di kehendaki di perkuat. Penguatan perilaku yang di kehendaki tersebut dilakukan dengan pengulangan, latihan, drill atau aplikasi.
7.      Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
8.     Setelah siswa lulus, berkat hasil belajar, siswa menyusun pigram belajar sendiri. Dalam penysunan program belajar sendiri tersebut, sedikit banyak siswa berlaku secara mandiri.
D.   Manfaat Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa Pembelajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemam -puan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada disekitarnya. (Ibrahim, 2000:7)

E. Langkah-langkah Model Pembelajaran Masalah
Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan metode pembelajaran berdasarkan masalah. John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah model pembelajaran berdasarkan masalah yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu:
1.   Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
2.   Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
3.   Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4.   Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5.   Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6.   Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.



Sedangkan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam menggunakan model pembelajaran pemecahan masalah, antara lain:
1.     Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2.     Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3.     Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4.     Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5.     Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
David Johnson & Johnson mengemukakan ada 5 langkah metode pembelajaran berdasarkan masalah melalui kegiatan kelompok.
1.   Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas tentang masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2.   Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.
3.   Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berfikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4.   Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5.   Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan; sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.

F.        Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Suatu soal yang dianggap sebagai “masalah” adalah soal yang memerlukan keaslian berpikir tanpa adanya contoh penyelesaian sebelumnya. Masalah berbeda dengan soal latihan. Pada soal latihan, siswa telah mengetahui cara menyelesaikannya, karena telah jelas hubungan antara yang diketahui dengan yang ditanyakan, dan biasanya telah ada contoh soal. Pada masalah siswa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya, tetapi siswa tertarik dan tertantang untuk menyeiesaikannya. Siswa menggunakan segenap pemikiran, memilih strategi pemecahannya, dan memproses hingga menemukan penyelesaian dan suatu masalah (Suyitno, 2000: 34).
Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar didasarkan pada keenam fase. Adapun rincian kegiatan pada setiap fase adalah sebagai berikut:
Fase 1   :   Orientasi siswa pada masalah
Pada tahap ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran, serta menjelaskan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pada kesempatan ini guru juga memotivasi siswa. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan dan meotivasi, guru mengajukan masalah dan meminta siswa mengemukakan ide dan teori yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah tersebut.
Fase 2   :   Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Pada kegiatan ini siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan kemampuan. Kriteria kemampuan dilihat dari hasil pretest. Sehingga satu kelompok terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan kurang mampu. Hal ini dilakukan dengan tujuan dalam menganalisis, masalah yang akan diberikan setiap kelompok mempunyai penyelesaian yang dapat diandalkan. Penyelesaian awal yang didapat akan menarik untuk didiskusikan dan dipertahankan kebenarannya. Selain itu pertimbangkan kemudahan dalam mengikuti prosedur PBI dan memberikan motivasi kepada siswa yang kurang mampu untuk mengejar ketinggalan selama ini. Secara tidak langsung pembagian kelompok ini akan memberikan bimbingan kepada siswa yang kurang mampu dalam menganalisa suatu masalah.


 Fase 3 : Membantu Penyelidikan Mandiri Ataupun Kelompok
Guru membantu siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber dengan jalan diberikan berbagai pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Guru mendorong untuk pertukaran ide secara bebas dan penerimaan sepenuhnya ide-ide tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam tahap penyelidikan dalam rangka pembelajaran berdasarkan masalah. Selama penyelidikan, guru memberikan bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu aktivitas siswa. Puncak-puncak proyek PBI adalah penciptaan dan peragaan artifak seperti laporan, poster, model-model fisik, dan video tape.(Nur,2000:2)
Fase 4   :   Membantu siswa memecahkan masalah
Dalam hal ini, siswa melakukan penyelidikan/pemecahan masalah. Pada tahap ini guru mendorong siswa mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen sampai mereka benar-benar mengerti dimensi situasi permasalahan. Tujuannya ialah agar siswa dalam mengumpulkan informasi cukup untuk mengembangkan dan menyusun ide-idenya sendiri. Selain itu guru mengajukan permasalahan/pertanyaan yang dapat dipikirkan siswa, dan memberikan berbagai jenis informasi yang diperlukan siswa untuk menemukan penyelesaian awal arena masih harus didiskusikan pada tahap berikutnya.
Fase 5   :   Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada kegiatan ini guru menyuruh salah seorang anggota kelompok untuk mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok dan guru membantu jika siswa mengalami kesulitan. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui hasil sementara pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Fase 6   :   Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir pembelajaran berdasarkan masalah, guru membantu menganalisis dan mengevaluasi proses berfikir siswa. Sedangkan siswa menyusun kembali hasil pemikiran dan kegiatan yang dilampaui pada setiap tahap pembelajaran. Dan guru membimbing siswa menyimpulkan pembalajaran serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan di rumah.
Menurut Ibrahim (dalam Trianto, 2007:72) di dalam kelas PBI, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru dalam kelas PBI antara lain: (1) mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari; (2) memfasilitasi/membimbing penyelidikan, misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen; (3) memfasilitasi dialog siswa; dan (4) mendukung belajar siswa.
G.   Metode Pemecahan Masalah
Masalah adalah suatu situasi (dapat berupa pertanyaan atau issu) yang disadari dan memerlukan suatu tindakan pemecahan, serta tidak segera tersedia suatu cara untuk mengatasi situasi itu. Bell (198:310) memberikan definisi masalah sebagai berikut :a situation is a problem for a person if he or she aware of existence, recognize that it requires action, wants or need to act and does so, and is not immediately able to resolve the problem”.
Dari definisi di atas, ciri-ciri suatu situasi yang dapat dinyatakan sebagai masalah adalah situasi itu sendiri, ada kemauan dan merasa perlu melakukan tindakan untuk mengatasinya, serta tidak segera dapat ditemukan cara mengatasi situasi tersebut.
Demikian pula suatu pertanyaan merupakan masalah bagi seorang siswa, tetapi belum tentu merupakan masalah bagi siswa yang lain. menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:2), syarat suatu masalah bagi seorang siswa adalah:
1. Pertanyaan yang diharapkan kepada seorang siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut.
2.   Pertanyaan tersebut tidak dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang telah diketahui oleh siswa. Karena itu faktor waktu jangan dipandang sebagai hal yang esensial.
Di dalam matematika, “suatu soal atau pertanyaan akan merupakan suatu masalah apabila tidak terdapat aturan/hukum tertentu yang segera dapat digunakan untuk menjawab atau menyelesaikan” (Hudoyo: 198). Hal ini berarti bahwa suatu soal matematika akan menjadi masalah apabila soal itu tidak memberikan petunjuk penyelesaian.
Di dalam matematika terdapat dua jenis masalah menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:158) yaitu:
a.    Masalah untuk menemukan berupa teoritis atau praktis, abstrak atau konkrit, termasuk         teka teki. Kita harus mencari semua variabel tersebut; kita mencoba untuk mendapatkan, menghasilkan atau mengkonstruksi semua jenis obyek yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah itu. Bagian utama dari masalah itu adala (1) apakah yang dicari?, (2) bagaimana data yang diketahui?, (3) bagaimana syaratnya?. Ketiga bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah jenis ini.
b.    Masalah untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu pertanyaan itu benar atau salah, tidak kedua-duanya. Kita harus menjawab pertanyaan “apakah pertanyaan itu benar atau salah?. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesa dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya. Kedua bagian utama tersebut sebagai landasan untuk dapat menyelesaikan masalah ini.
Setiap masalah tentu akan diselesaikan untuk menemukan jawabannya atau pemecahan masalahnya. Menurut Polya (dalam Hudoyo, 1989:112), pemecahan masalah merupakan usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai. Menurut Polya (dalam Orton, 1992), ada empat tahap yang dapat dilakukan dalam memecahkan masalah yaitu : (1) memahami masalah, (2) membuat suatu rencana, (3) melaksanakan rencana tersebut, dan (4) memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh.
Membelajarkan siswa memecahkan masalah dengan pemecahan masalah akan memungkinkan siswa lebih kritis dan analitis, sehingga siswa menjadi lebih baik dalam pendidikannya dan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikatakan juga bahwa strategi pembelajaran di masa datang, sebab mampu mengaktifkan peserta didik, meningkatkan motivasi belajar dan kemandirian peserta didik mudah dikontrol. Akan tetapi ada juga kendalanya yaitu banyaknya peserta didik dalam satu kelas sehingga akan menggunakan waktu yang banyak dan membimbing peserta didik memecahkan masalah.
H.   Keunggulan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Berdasarkan masalah.
1.   Keunggulan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, metode pembelajaran berdasarkan masalah memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
a.      Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.     Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
d.     Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f.      Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematikan, IPA, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berfikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
g.     Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h.     Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.       Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j.       Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
2.   Kelemahan
Di samping keunggulan, model pembelajaran berdasarkan masalah juga memiliki kelemahan diantaranya:
a.      Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b.     Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
I.      Evaluasi
Dalam PBI perhatian pembelajaran tidak pada perolehan pengetahuan deklaratif, oleh karena itu tugas penilaian tidak cukup bila hanya dengan tes tertulis atau tes kertas dan pensil (paper and pencil test). Teknik penilaian yang sesuai dengan model ini adalah menilai pekerjaan yang dihasilkan siswa yang merupakan hasil penyelidikan mereka.
Tugas evaluasi yang sesuai untuk model ini terutama terdiri atas menemukan prosedur penilaian alternatif yang akan digunakan untuk mengukur pekerjaan siswa, misalnya dengan penilaian kinerja dan peragaan hasil.





DAFTAR PUSTAKA

Hodojo.1998. pembelajaran berdasarkan masalah
http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/model-pembelajaran-berdasarkan-masalah.html diakses tanggal 17 September 2011
Hudoyo.1989. Metode Pembelajaran Masalah. Jakarta:Prenada Media.
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.
Nur.2000.model pembelajaran berdasarkan masalah
            Diakses tanggal 17 September 2011
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Prenada Media Grup.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar