Kamis, 14 Maret 2013

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual


BAB VI
PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A.    Latar Belakang
Sejauh ini, pembelajaran masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai suatu fakta untuk dihapal. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa itu senantiasa terkait dengan permasalah-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. (Rusman:2010)
Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan “skema”. Skema terbentuk karena pengalaman, dan proses penyempurnaan skema itu dinamakan asimilasi dan semakin besar pertumbuhan anak maka skema akan semakin sempurna yang kemudian disebut dengan proses akomodasi.
Pendapat Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran, diantaranya model pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning/CTL). Menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa.
Dewasa ini pembelajaran kontekstual telah berkembang di Negara-negara maju dengan berbagai nama. Di negeri Belanda berkembang Realistic Mathematics Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang Contextual Teaching and Learning/CTL  yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa dan memotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dengan kehidupan mereka. Sementara itu di Michigan juga berkembang Connected Mathematics Project (CPM) yang bertujuan mengintegrasikan ide matematika ke dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dipelajari dengan baik dan mudah.
B.     Pengertian
CTL atau contextual teaching and learning adalah sebuah sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. (Sugiyanto: 2009)
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi atau proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.Karena untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri (learning to do), bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru. (Rusman: 2010)
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik), akan tetapi secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat). (Rusman: 2010)
Menurut Johnson 2002 : 25 (dalam Nurhadi) CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya dan budayanya.
Menurut Hower R. Kenneth (2001) CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar diman siswa mengguanakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulative ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Sedangkan menurut Yoyo: 2006 CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menciptakan kondisi tersebut diperlukan strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui strategi CTL, siswa diharapkan belajar mengalami bukan menghafal. (Sugiyanto: 2009)
Jadi, Contextual Teaching and Learning/CTL  merupakan pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata siswa (Daily Live Modelling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktifitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.Melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, mengajar bukanlah transformasi pengetahuan dari guru kepada siswadengan menghapal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan bias hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. (Rusman: 2010)
C.    Landasan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/CTL
Landasan filosofi CTL adalah kontruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Kontruktivisme berakar pada filsafat pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada awal abad ke-20, yaitu sebuah filosofi belajar yang menekankan pada pengembangan minat dan pengalaman siswa. (Sugiyanto: 2009)
Dipandang dari sudut psikologis, CTL berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respon. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman.
Ada yang perlu dipahami tentang pbelajar dalam konteks CTL.
1.      Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki
2.      Belajar bukan sekedar mengumnpulkan fakta yang lepas-lepas.
3.      Belajar adalah proses pemecahan masalah
4.      Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari yang sederhana menuju yang kompleks
5.      Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari kenyataan.
D.    Karakteristik
Menurut Johnson 2002 : 24 (dalam Nurhadi) ada delapan komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu:
1.      Melakukan hubungan yang bermakna (Making Meaningful Connection)
Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minat secara individu, orang yang dapat bekerja sendiri atau kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat.
2.      Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (Doing Significant Work)
Siswa membuat hubungan–hubungan antara sekolah sebagai  pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat, siswa juga melakukan pekerjaan yang siginifikan (doing significant work). Yaitu pekerjaan yang memiliki suatu tujuan, memiliki kepedulian terhadap orang lain, ikut serta dalam menentukan pilihan, dan menghasilkan produk. (Saliman: 2008: slide 8)
3.      Belajar yang diatur sendiri (Self – Regulated Learning)
Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan (ada tujuannya, urusannya dengan orang lain, hubungannya dengan penentuan pilihan dan ada produk/hasil yang sifatnya nyata). Pembelajaran mandiri (self-regulated learning) dapat  membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan konteks kehidupan sehari-hari (Saliman: 2008: slide 9).
4.      Bekerja sama (Colaborating)
Dalam hal ini guru membantu siswa bekerja sama secara efektif dalam kelompok, membantu mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi. Bekerjasama (collaborating) untuk membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka untuk mengerti bagaimana berkomunikasi/berinteraksi dengan yang lain dan dampak apa yang ditimbulkannya  (Saliman: 2008: slide 9).
5.      Berfikir kritis dan kreatif (Critical and Creative Thinking)
Dalam hal ini, siswa dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berpikir kritis dan kreatifnya dalam pengumpulan, analisis dan sintesa data, memahami suatu isu/fakta dan pemecahan masalah (Saliman: 2008: slide 10).
6.      Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (Nurturing the Individual)
Siswa dapat memelihara pribadinya, siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan dari orang dewasa.
7.      Mencapai standar yang tinggi (Reaching High Standards)
Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut Exellence.
8.      Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)
Penilaian autentik adalah suatu istilah/terminologi yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah (Saliman: 2008: slide 11). Sekaligus mengekspresikan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah (Hymes, 1991).
Penilaian ini adalah simulasi yang dapat mengekspresikan prestasi (performance) siswa yang ditemui di dalam praktek dunia nyata. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara :
·         Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
·         Penilaian produk (kerja)
·         Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
Cara di atas dapat memacu minat siswa agar dapat menggunakan informasi akademis baru dan keterampilannya kedalam situasi nyata untuk tujuan yang signifikan.
9.      Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dll.
10.  Dinding kelas dan lorong penuh dengan hasil karya siswa
11.  Menggunakan berbagai sumber
12.  Siswa aktif dan sharing dengan teman (Depdiknas: 22)
E.     Fokus Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa didalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal berikut:
1.         Belajar berbasis masalah (problem - based learning)
Yaitu suatu pendekatan pengajaran yangn menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tenrang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran
2.         Pengajaran autentik (authentic intruction)
Yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna
3.         Belajar berbasis inquiri (inquiry-based learning)
Yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna, antaralain :
·      Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
·      Siswa belajar menggunakan keterampilan berfikir kritis
4.         Belajar berbasis proyek/tugas (project-based learning)
Yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
5.         Belajar berbasis kerja (work-based learning)
Yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa mrnggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbsis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja.
6.         Belajar berbasis jasa-layanan (service learning)
Yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis.
7.         Belajar kooperatif (cooperative learning)
Yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar.
F.     Prinsip Penerapan Pembelajaran Kontekstual
Beberapa prinsip yang harus dipegang oleh guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual, antara lain :
1.         Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajiban perkembangan mental (Developmentally Appropriate) siswa.
2.         Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung (Independent Learning Groups)
3.         Kesalingtergantungan mewujudkan diri, misalnya ketika para siswa bergabung untuk memecahkan masalah dan ketika para guru mengadakan pertemuan dengan rekannya. Hal ini tampak jelas ketika subjek yang berbeda dihubungkan, dan ketika kemitraan menggabungkan sekolah dengan dunia bisnis dan kornunitas (Sugiyanto: 2009: 15).
4.         Menyediakan lingkungan yang mendukung (Self – Regulated learning)
Hal ini  membangun minat individual siswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna dengan mengaitkan antara materi ajar dan konteks kehidupan sehari-hari (Sugiyanto: 2009: 15).
5.         Mempertimbangkan keragaman siswa (Disversity of Students)
Keragaman atau differensiasi menjadi nyata ketika CTL menantang para siswa untuk saling menghormati keunikan masing-masing, untuk menghormati perbedaan-perbedaan, untuk menjadi kreatif, untuk bekerjasama, untuk menghasilkan gagasan dan hasil baru yang berbeda, dan untuk menyadari bahwa keragaman adalah tanda kemantapan dan kekuatan (Sugiyanto: 2009: 15).
6.         Memperhatikan multi – intelegensi (Multiple  Intelegences)
7.         Menggunakan teknik-teknik bertanya (Questioning)
8.         Menerapkan penilai autentik (Authentic Assesment)
Yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna melalui pengembangan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata (Saliman: 2008: slide 12).
G.    Tujuh Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual
1.      Kontruktivisme (Contructivism)
Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut kontruktivisme, pengetahuan memang berasal dari luar tetapi dikontruksi dalam diri seseorang, oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting yaitu obyek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subyek untuk mengintrepretasi obyek tersebut (Sugiyanto: 2009: 17).
Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong – konyong, pengetahuanbukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
2.      Menemukan (Inquiri)
Inquiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis (Sugiyanto: 2009: 17).Inquiri merupakan inti dari pembelajaran berbasis CTL, pengetahuan dan keterampilan yangdiperoleh siswa hasil dari menemukan sendiri.Kegiatan inquiri merupakan sebuah siklus, siklus tersebut terdiri dari langkah – langkah sebagai berikut :
·      Merumuskan masalah (dalam mapel apapun)
·      Mengajukan hipotesa
·      Mengumpulkan data melalui observasi
·      Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya (menguji hipotesa).
·      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, , teman sekelas, atau audiens yang lain (membuat kesimpulan).
3.      Bertanya (Question)
Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran. Dalam pembelajaran model CTL guru tidak menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing siswa dengan bertanya agar siswa dapat menemukan jawabannya sendiri (Sugiyanto: 2009: 17). Pengembangan keterampilan guru dalam bertanya sangat diperlukan, hal ini penting karena pertanyaan guru menjadikan pembelajaran lebih produktif, yaitu berguna untuk :
·      Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan pembelajaran
·      Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar
·      Merangsang keinginan siswa terhadap sesuatu
·      Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan
·      Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu
·      Menyegarkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa
4.      Masyarakat belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar didasarkan pada pendapat Vygotsky bahwa pengetahuan dan pengalaman anak dapat dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain (Sugiyanto: 2009: 18).Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran didapat dari hasil kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar akan berjalan baik jika terjadi komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat aktif dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. (Rusman: 2010)
Manfaatnya yaitu melatih siswa untuk bekerjasama, memberi, dan meminta informasi, prakteknya di kelas terwujud dalam :
a.       Pembentukan kelompok kecil
b.      Pembentukan kelompok besar
c.       Mendatangkan nara sumber atau ahli
d.      Bekerja dengan kelas sederajad
e.       Bekerja dengan sekolah diatasnya
f.       Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
g.      Bekerja dengan masyarakat
5.      Pemodelan (Modeling)
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan suatu contoh yang dapat ditiru oleh siswa, contohnya membaca berita, membaca lafal bahasa, mengoperasikan instrumen memerlukan contoh agar siswa dapat mengerjakan dengan benar (Sugiyanto: 2009: 19).
Dalam pembelajaran ada model yang ditiru (Bagaimana cara belajar), misalnya cara membaca peta, cara menemukan kata kunci. Guru bukan satu-satunya model, bisa dari siswa atau narasumber
6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajarinya dengan cara mengurutkan dan mengevaluasi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya untuk mendapatkan pengalaman yang dicapai, baik yang bernilai positif atau yang bernilai negatif (Sugiyanto: 2009: 19).
Refleksi juga merupakan cara  berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa lalu, realisasi refleksi antara lain:
a.    Pertanyaan langsung tentang apa yang diperoleh pada hari tersebut
b.   Catatan atau jurnal di buku siswa
c.    Kesan atau saran siswa mengenai hal tersebut
d.   Diskusi
e.    Hasil karya
7.      Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesment)
Adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Karakteristik Authentic Assesment antara lain :
a.       Diselenggarakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
b.      Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
c.       Mengukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
d.      Berkesinambungan
e.       Terintegrasi
f.       Dapat digunakan sebagai feed back
H.    Penerapan CTL di Kelas
Menurut Yoyo (2006), secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dikelas antara lain :
1.         Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2.         Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.         Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.         Ciptakan masyarakat belajar.
5.         Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.         Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.         Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
Pengaitan yang dilakukan dalam CTL cocok diterapkan mulai dari sekolah dasar hingga universitas. Adapun contoh konkrit penerapan metode pembelajaran kontekstual di dalam kelas yaitu,
Seorang guru matematika memberikan tugas kepada siswanya tentang kegiatan dimasa datang serta cara “menabung untuk masa pensiun”, ada dua rumus, yaitu menentukan jumlah uang yang akan didapatkan setelah seseorang menabung dalam jangka waktu tertentu ditambah bunga. Atau dengan menentukan total uang yang akan diterima setelah seseorang melakukan pembayaran dalam satu periode waktu tertentu. Para siswa kemudian diminta untuk menghitung dan membandingkan berbagai macam rencana pensiun dengan menggunakan dua rumus tersebut. Para siswa harus membuat rencana pensiun berdasarkan data terkini. Mereka belajar “presentase, evaluasi rumus, pemecahan masalah, penukaran uang” dengan menggunakan kalkulator grafik dan lembar kerja komputer. Para siswa melihat perbedaan jumlah uang apabila program pensiun dimulai lebih awal.
I.       Peranan Guru
Agar proses pengajaran kontekstual lebih efektif, guru perlu melaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
1.         Menguji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari siswa
2.         Memahami latar belakang sekolah dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama
3.         Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memillih dan mengaitkan dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahasdalam proses pembelajaran kontekstual
4.         Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan mereka
5.         Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya
6.         Melakukan penilaian terhadap pemahaman siswa
J.      Strategi Pembelajaran Kontekstual
Center of Occupational Research and Development (CORD) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual, yaitu :
1.         Relating: belajar berkaitan dengan konteks pengalaman hidup nyata
2.         Experiecing: belajar ditekankan pada penggalian, penemuan, dan penciptaan
3.         Applying: belajar bilamana pengetahuan di presentasikan didalam konteks pemanfaatanya
4.         Cooperating: belajar melalui konteks komunikasi inter personal, pemakaian bersama, dan sebagainya. Misalnya belajar berkelompok di dalam kelas dan  mengadakan penelitian bersama antar siswa.
5.         Transferring: belajar melalui pemanfaatan pengetahuan didalam situasi dan konteks baru, misalnya melakukan asimilasi dan akomodasi antara materi pelajaran yang telah dikuasai dengan materi pelajaran yang baru diperoleh, sehingga siswa dapat lebih memahami secara mendalam tentang materi pelajaran yang telah diperolehnya.


DAFTAR PUSTAKA
Dwijatmiko,yoyo.2006. PendekatanKontekstual ( Contextual Teaching and Learning )
Banyumas : Dinas Pendidikan
Nurhadi, dkk, Pembelajaran Kontekstual Dalam Pengembangan KBK.Penerbit Universitas Negri Malang
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sugianto. 2009. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon  13 FKIP UNS Surakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar