Kamis, 14 Maret 2013

TGT




BAB V
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
 TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS  (TGT)

A.     Landasan Pemikiran Pembelajaran Kooperatif
Belajar kompetitif dan individualitis telah mendomisili pendidikan di Amerik Serikat sekitar tahun 1960-an. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Belajar kompetitif dan individualitis akan efektif dan merupakan cara memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis, yaitu :
a.       Kompetisi kadang tidak sehat
b.      Siswa berkemampuan rendah kurang termotivasi
c.       Siswa berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal
d.      Dapat membuat frustasi siswa lainnya
Untuk menghindari tersebut maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif. Dengan belajar kooperatif, siswa belajar bersama sebagai satu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencapai keberhasilan kelompoknya. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah memahami hal yang mereka anggap sulit jika mereka berdikusi dengan temannya. Dengan demikian maka siswa akan bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Dalam kelas kooperatif siswa terbagi atas beberapa kelompok kecil, dimana setiap kelompok kecil beranggotakan 4-6 orang siswa yang sederajat namun heterogen dalam hal kemampuan, jenis kelamin, suku dan ras. Meskipun demikian, setiap siswa memiliki kesempatan untuk dapat terlibatkan secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar.   (Trianto, 2009)

B.     Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Di awal sudah dijelaskan bahwa tujuan utama belajar kooperatif adalah supaya siswa dapat bekerja sama untuk belajar dan bertanggungjawab pada kemajuan belajar temannya. Selain itu belajar kooperatif juga menekankan pada tujuan dan kesuksesan kelompok yang hanya dapat tercapai jika setiap anggota kelompoknya menguasai materi. Sedangkan tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Penerapan belajar kooperatif kepada siswa juga dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual, dapat mengembangkan solidaritas osial dikalangan siswa. (Trianto, 2009)

C.     Pembelajaran Tipe Teams Games Tournaments (TGT)
Team Game Tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards. Ini merupakan metode  pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. Tipe TGT sangat terkenal dan populer dikalangan para ahli pendidikan. Pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan model yang sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan. TGT memiliki dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh membantu, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar (Kiranawati, 2007).
 Secara garis besar, uraian tentang model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut :
1.      Komponen TGT
Menurut Slavin ( 1994 : 84 ) komponen utama dalam TGT yaitu: penyajian kelas (class presentation), kelompok (team), kuis (games), kompetisi (tournament), dan penghargaan kelompok (class recognition).
a.       Penyajian Kelas (Class Presentation)
Presentasi kelas digunakan guru untuk memperkenalkan tujuan pembelajaran, penjelasan singkat tentang LKS (Lembar Kerja Siswa) yang dibagikan pada kelompok dan materi pelajaran dengan pengajaran langsung atau diskusi dapat juga dengan audiovisual. Fokus presentasi kelas hanya menyangkut pokok-pokok materi dan teknik pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena akan menentukan skor game dan ini akan menentukan pula pada skor kelompok.
b.      Kelompok (Team)
Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. Dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT tim terdiri dari 4 sampai 6 siswa anggota kelas. Guru membagi kelas menjadi kelompok – kelompok berdasarkan kriteria kemampuan (prestasi) siswa dari pretest atau ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin (gender), etnik dan ras. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan. Setelah presentasi kelas kegiatan tim umumnya adalah  konsep anggota lain.
c.       Games
Permainan ini terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Permainan ini dimainkan oleh beberapa siswa, dimana siswa tersebut merupakan wakil dari masing-masing kelompok yang berbeda. Salah satu siswa mengambil kartu bernomor dan harus menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor yang tertera pada kartu tersebut. Setiap siswa yang bersaing diperbolehkan menjawab dan saling menantang setiap pertanyaan dengan jawaban masing-masing. (Slavin : 2008 : 166)
d.      Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing – masing ditempatkan dalam meja – meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara (Slavin, 2008).  Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh  terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.
Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap  peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

      Tinggi                         Sedang                           Sedang                        Rendah
         A1                               A2                                  A3                               A4
Meja
Turnamen I
A1   B1   C1
Meja
Turnamen II
A2   B2   C2

Meja
Turnamen III
A3   B3   C3

Meja
Turnamen IV
A4   B4   C4

Tinggi     Sedang      Sedang   Rendah
     B1           B2               B3          B4

TIM B
Tinggi     Sedang      Sedang   Rendah
     C1          C2               C3          C4

TIM C

TIM A














Gambar 1. Penempatan Siswa dan Tim pada Meja Turnamen

Gambar diatas menunjukkan bahwa penempatan siswa pada meja turnamen berdasar ranking siswa dalam tim. Meja turnamen 1 adalah meja tempat berkompetisi siswa dengan kemampuan awal tertinggi dalam tim sebagai meja yang tertinggi tingkatannya daripada meja turnamen II. Meja turnamen II lebih tinggi tingkatannya daripada meja turnamen III. Meja IV adalah meja yang paling rendah tingkatannya.
Setelah turnamen selesai dan dilakukan penilaian guru mengatur kembali kedudukan siswa pada tiap meja turnamen, kecuali pemenang pada meja tertinggi. Pemenang pada setiap meja dinaikkan atau digeser satu tingkat ke meja yang lebih tinggi tingkatannya dan yang mendapatkan skor terendah pada setiap meja turnamen selain yang ada pada meja terendah tingkatannya diturunkan satu tingkat ke meja yang lebih rendah tingkatannya. Pada akhirnya mereka akan mengalami penaikkan atau penurunan sehingga mereka akan sampai pada meja yang sesuai dengan kinerja mereka.



Pelaksanaan game dalam bentuk turnamen dilakukan dengan prosedur, sebagai berikut:
1.    Guru menentukan nomor urut siswa dan menempatkan siswa pada meja turnamen (3 orang, kemampuan setara). Setiap meja terdapat 1 lembar permainan, 1 lembar jawaban, 1 kotak kartu nomor, 1 lembar skor permainan.
2.    Siswa mencabut kartu untuk menentukan pembaca (nomor tertinggi) dan yang lain menjadi penantang I dan II.
3.    Pembaca menggocok kartu dan mengambil kartu.
4.    Pembaca membaca soal sesuai nomor pada kartu dan mencoba menjawabnya. Jika jawaban salah, tidak ada sanksi dan kartu dikembalikan. Jika benar kartu disimpan sebagai bukti skor.
5.    Jika penantang I dan II memiliki jawaban berbeda, mereka dapat mengajukan jawaban secara bergantian.
6.    Jika jawaban penantang salah, dia dikenakan denda mengembalikan kartu jawaban yang benar (jika ada).
7.    Selanjutnya siswa berganti posisi (sesuai urutan) dengan prosedur yang sama.
8.    Setelah selesai, siswa menghitung kartu dan skor mereka dan diakumulasi dengan semua tim.
9.    Penghargaan sertifikat, Tim Super untuk kriteria atas, Tim Sangat Baik untuk kriteria tengah, Tim Baik untuk kriteria bawah.
10.     Untuk melanjutkan turnamen, guru dapat melakukan pergeseran tempat siswa    berdasarkan prestasi pada meja turnamen.  (Slavin, 2008)
e.       Penghargaan Kelompok (Class Recognition)
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rata-rata skor kelompok. Untuk menilai skor rata-rata kelompok, dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing-masing anggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata-rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Tim-tim yang telah berhasil mendapat nilai rata-rata melebihi kriteria tertentu diberi penghargaan berupa sertifikat atau penghargaan bentuk lain. Penghargaan tersebut pada akhirnya akan dijadikan sebagai tambahan nilai tugas siswa. Selain itu diberikan pula hadiah (reward) sebagai motivasi belajar. (Slavin, 2008)

Tabel 1.  Penghitungan Skor Kelompok
Jumlah anggota
Penghitungan Skor Kelompok
3
60 50 60 60 50 60 40 50

40 50 40 40 50 30 40 50

20 20 20 30 20 30 40 30

Tabel 2.  Kriteria Penghargaan Kelompok Tipe TGT
NO.
PEROLEHAN RATA-RATA
PREDIKAT
1.
45 atau lebih
Super Team
2.
40 – 44
Great Team
3.
30 – 39
Good Team

2.      Langkah dan Aktivitas Pembelajaran
Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT mengikuti urutan berikut :
a.       Presentasi Kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, dan diskusi yang dipimpin guru. Disamping itu, guru juga menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game/turnamen karena skor game/turnamen akan menentukan skor kelompok. (Slavin,2008)
b.      Pengaturan Klasikal dan Belajar Kelompok
Pembelajaran diawali dengan memberikan materi pelajaran, selanjutnya diumumkan penugasan tim dan siswa diminta memindahkan bangku untuk membentuk meja tim. Kepada siswa disampaikan bahwa mereka akan bekerjasama dengan tim selama beberapa minggu, dan mengikuti turnamen akademik untuk memperoleh poin bagi nilai tim mereka, serta diberitahukan bahwa tim yang mendapat nilai tinggi akan mendapat penghargaan.


c.       Persiapan Permainan/Pertandingan
Guru mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi, bernomor 1 sampai 30. Kemudian guru mempersiapkan alat-alat untuk permainan, yaitu: kartu permainan yang dilengkapi nomor, skor, pertanyaan, dan jawaban mengenai materi.
d.      Turnamen Akademik dan Penskoran
Kegiatan dalam langkah tuurnamen adalah persaingan pada meja turnamen dari 3 – 4 siswa berasal dari tim yang berbeda dengan kemampuan setara. Pada permulaan turnamen, diumumkan penetapan meja bagi setiap siswa. Siswa diminta mengatur meja turnamen dan menyuruh siswa menuju ke meja turnamen yang telah ditetapkan. Nomor meja turnamen dapat diacak. Setelah kelengkapan dibagikan turnamen dapat dimulai. Bagan dari putaran permainan dengan 3 orang dalam satu meja turnamen digambarkan sebagai berikut :

Pemain I (Pembaca)
1.      Mengambil satu dari tumpukan kartu yang telah diacak dan mencari pertanyaan yang sesuai pada lembar permainan
2.      Membaca pertanyaan dengan keras
Pemain II
1.      Ikut mencoba menjawab pertanyaan
2.      Menantang/memberi jawaban yang berbeda.
Pemain III
1.      Ikut mencoba menjawab pertanyaan
2.      Menantang/memberi jawaban yang berbeda.

 









Gambar 2. Aturan Permainan

Untuk memulai game, siswa mengadakan undian untuk menentukan pembaca pertama, penantang I, dan penantang II. Urutan permainan searah jarum jam dari pembaca pertama. Selanjutnya pembaca pertama mengocok kartu yang paling atas. Dia kemudian membaca dengan keras pertanyaan yang ada pada kartu, dan membacakan kemungkinan jawaban jika jenis soalnya pilihan ganda.
Para penantang harus berhati-hati karena mereka harus mengembalikan kartu kemenangan (jika punya) di dalam kotak jika mereka menjawab salah. Ketika semua orang telah menjawab, menantang atau lolos, penantang kedua mengecek lembar jawab (ada pada guru) dan membaca jawaban yang benar. Pemain yang menjawab benar menyimpan kartu. Jika kedua penantang menjawab salah, dia harus mengembalikan kartu kemenangan sebelumnya (jika ada).
Untuk putaran berikutnya, penantang I menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I dan pembaca menjadi penantang II, demikian seterusnya seperti yang ditentukan guru sampai waktu habis atau tumpukan kartu habis. Ketika permainan selesai, pemain mencatat jumlah kartu yang mereka menangkan pada lembar skor game pada kolom game 1 (tabel 3). Jika masih ada waktu, dan permainan dilanjutkan, siswa mengocok ulang tumpukan kartu dan bermain permainan kartu kedua sampai waktu berakhir. Selanjutnya catat nomor kartu yang dimenangkan pada kolom game 2 pada lembar skor game pada tabel 3.

Tabel 3. Lembar Skor Game TGT
Meja                :………………….
Putaran            :…………………
Pemain
Team
Game 1
Game 2
Game 3
Total harian
Poin Putaran
Junot

5
6

11
20
Nia

13
9

22
60
Andi

10
11

21
40

Semua siswa harus bermain pada waktu yang sama. Sambil mereka bermain, pindah dari grup ke grup untuk menjawab pertanyaan dan yakinkan bahwa setiap orang memahami prosedur permainan. Sepuluh menit sebelum permainan berakhir perintahkan siswa untuk berhenti dan menghitung kartunya. Kemudian mereka harus mengisi nama mereka, tim, skor pada lembar skor game seperti tabel 3.
Perintahkan siswa menambah skor yang mereka peroleh pada setiap game jika mereka bermain lebih dari satu kali, dan isilah dalam jumlah total skor harian mereka. Untuk siswa yang usianya lebih muda hanya mengumpulkan lembar skor, dan siswa yang usianya lebih dewasa suruh menghitung skor mereka sendiri, seperti ditunjukkan pada tabel 4, tabel 5, tabel 6 sebagai contoh menghitung poin turnamen untuk semua hasil turnamen.



Table 4. Menghitung Poin Turnamen Untuk Permainan 4 Pemain
Tingkatan Skor Pemain
Tidak seri
Seri pada tingkat tinggi
Seri pada tingkat sedang
Seri pada tingkat rendah
Seri pada 3 tertinggi
Seri pada 3 terendah
Semua seri
Seri untuk Rendah dan Tinggi
Tinggi
60
50
60
50
50
60
40
50
Tinggi
Sedang
40
50
40
40
50
30
40
50
Sedang
Rendah
30
30
40
30
50
30
40
30
Rendah
30
20
20
30
20
30
40
30

Table 5. Menghitung Poin Turnamen untuk Permainan 3 Pemain
Tingkatan Skor Pemain
Tidak Seri
Seri untuk Tingkat Tinggi
Seri untuk Tingkat Rendah
Semua Seri
Tinggi
60
50
60
40
Sedang
40
50
30
40
Rendah
20
20
30
40

Tabel 6. Menghitung Poin Turnamen untuk Permainan 2 Pemain
Tingkatan Skor Pemain
Tidak Seri
Seri
Tinggi
60
40
Rendah
20
40

Dalam implementasinya secara teknis Slavin (2008) mengemukakan empat langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik TGT yang merupakan siklus regular dari aktivitas pembelajaran, sebagai berikut:
·      Step 1: Pengajaran, pada tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran.
·      Step 2: Belajar tim, para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi.
·      Step 3: Turnamen, para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen, dengan meja turnamen tiga peserta (kompetisi dengan tiga peserta).
·      Step 4: Rekognisi tim, skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. (Slavin, 2008)
e.       Pengakuan Tim
Untuk menghitung skor tim dan mempersiapkan sertifikat atau penghargaan lain, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Menghitung Skor Tim
Setelah selesai turnamen, menghitung skor tim dan mempersiapkan sertifikat atau penghargaan untuk tim dengan skor tinggi. Untuk menghitung skor ceklah poin turnamen pada skor permainan, kemudian pindahkan poin turnamen masing-masing pada lembar ringkasan pada tim, tambahkan semua skor anggota tim dan bagilah nomor anggota tim yang hadir. Tabel 7 menunjukkan pencatatan dan penjumlahan skor untuk satu tim.

Table 7.  Contoh : Lembar Ringkasan Skor Tim
Anggota Tim
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Mark
60
20
20
40










Kevin
40
40
20
60










Lisa A
50
20
40
60










John F
60
60
20
40










Dewanda
40
40
60
20










Total skor tim
250
180
160
220










Rata – rata tim
50
36
32
44










Penghargaan
Super team


Good team













2.    Pencapaian Pengakuan Tim
Tiga tingkatan penghargaan pada TGT diberikan pada skor tim rata-rata. Tiga tingkatan penghargaan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 8. Tingkatan Penghargaan
Skor rata-rata tim
Penghargaan
40
Good Team
45
Great Team
50
Super Team

Tim yang mencapai kriteria Great Team atau Super Team boleh diberi sertifikat penghargaan, sedangkan untuk Good Team sebaiknya diberi ucapan selamat saja di dalam kelas. Kemenangan bisa diumumkan di papan pengumuman di sekolah, bila perlu pasang foto mereka dan nama timnya. Hal ini akan memberi motivasi siswa untuk membantu teman timnya belajar.
f.       Bumping
Menurut Slavin ( 1994 : 91 ), bumping atau penempatan kembali siswa pada meja turnamen dilakukan untuk mempersiapkan turnamen berikutnya. Melakukan bumping lebih mudah ketika  menghitung skor tim. Tabel 8 menggambarkan lembar penempatan meja turnamen yang menunjukkan bagaimana bumping bekerja setelah dua turnamen. Untuk menempatkan kembali siswa menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Gunakan lembar skor game untuk mengidentifikasi skor tertinggi dan terendah pada masing-masing meja turnamen. Pada lembar penempatan meja turnamen, lingkarilah meja penempatan untuk semua siswa yang memiliki skor paling tinggi pada meja mereka. Jika ada skor tinggi yang sama pada suatu meja, putarlah koin untuk memutuskan nomor mana yang akan dilingkari, jangan melingkari lebih dari satu nomor per meja. Pada tabel 8 memperlihatkan Septi, Kaniyah dan Yuni sebagai pemenang pada turnamen pertama, maka nomor meja mereka dilingkari pada kolom pertama. Nur, Kaniyah dan Septi merupakan pemilik skor tertinggi pada turnamen kedua, maka nomor mereka dilingkari pada kolom kedua.
2.    Garis bawahi nomor meja siswa yang mendapatkan skor lebih rendah, jika ada penyamaan untuk skor rendah pada beberapa meja, lakukan hal yang sama seperti memilihkan nomor dengan skor tertinggi.
3.    Pada kolom untuk turnamen berikutnya, transfer nomornya sebagai berikut : jika nomornya dilingkari, kurangi 1 ( 2 menjadi 1 ). Maksudnya pemenang pada meja 2 akan bersaing minggu berikutnya pada meja 1, yaitu meja kompetisi yang lebih sulit. Jika nomornya digarisbawahi, naikkan 1 ( 2 menjadi 3 ), kecuali meja terendah, dimana pemilik skor terendah pada masing-masing meja akan bersaing minggu depan pada meja yang kompetisinya tidak terlalu sulit. Jika mejanya tidak  digarisbawahi, transferlah ke nomor yang sama.

Tim 1
                          J   K   L
Tim 2
                           J   K   L
                     Tim 3
                               J   K   L
                                    Tim 4
                                  J   K   L          
Gambar 3. Bumping

Kaniyah pemilik skor tertinggi pada meja 2 pada turnamen pertama telah dipindah ke meja 1. Rini pemilik skor sedang pada meja 2 pada turnamen pertama maka ia tetap di meja 2, kemudaian dia memiliki nilai rendah pada turnamen kedua dan pindah ke 3.




Tabel 9. Lembar Tabel Penempatan Turnamen
No.
Siswa
Tim
Meja Siswa Pada Tournamen Ke-
1
Skor T.1
2
Skor T.2
3
1
Juju
I
1
20
2
20
2
2
Tety
II
1
40
1
40
1
3
Septi
III
1
60
1
60
1
4
Kaniyah
I
2
60
1
60
1
5
Tia
II
2
20
3
40
3
6
Rini
III
2
40
2
20
3
7
Ningsih
I
3
20
3
20
3
8
Yuni
II
3
60
2
40
2
9
Nur
III
3
40
3
60
2

Hitunglah nomor siswa yang ditempatkan pada masing-masing meja untuk turnamen minggu depan. Jika penempatan meja tidak berjalan semestinya karena mungkin ada siswa yang absen, buatlah perubahan sehingga tetap bekerja. Juga diperbolehkan merubah penempatan meja untuk menghindari satu meja yang berasal dari tim yang sama.
Pada tabel 9 Septi pemilik skor tertinggi dua kali pada meja 1 tetapi tidak berubah meja, karena tidak ada tempat yang lebih tinggi daripada meja 1. Ningsih pemilik skor terendah pada meja 3 tetapi tidak dipindah ke bawah karena meja 3 merupakan meja terendah.
g.      Merubah Tim
Setelah 5 atau 6 minggu pelaksanaan TGT atau pada akhir periode penilaian atau unit, tempatkan siswa dengan tim baru.
h.      Mengkombinasikan TGT dengan Aktifitas Lain
Menurut Slavin ( 1994 : 95 ), guru dapat menggunakan TGT untuk suatu bagian dari pembelajaran dan metode lain untuk bagian lain. Misal, guru boleh menggunakan TGT satu minggu untuk masing-masing konsep dasar, tetapi gunakan latihan-latihan yang menggunakan laboratorium untuk dua hari berikutnya. Prosedur ini memberikan ide guru lebih baik untuk kemajuan siswa daripada turnamen saja. TGT sangat berguna dalam memberikan pemahaman bagi siswa pada materi yang dipelajari.
i.        Penilaian
TGT tidak secara otomatis menghasilkan nilai yang dapat digunakan untuk menghitung skor individu. Untuk menentukan nilai individual, banyak guru memberikan mid test atau final test pada masing – masing semester, beberapa guru memberikan kuis setelah turnamen tidak dalam poin skor turnamen atau skor tim. Akan tetapi poin turnamen siswa atau skor tim dapat dibuat bagian kecil dari nilai mereka, atau jika sekolah dapat memberikan nilai terpisah agar supaya nilai ini dapat digunakan untuk nilai usaha.
3.      Kebaikan dan kelemahan pembelajaran kooperatif tipe TGT
Slavin (2008), melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut:
·      Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
·      Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
·      TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
·      TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonverbal, kompetisi yang lebih sedikit)
·      Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
·      TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain. (Slavin,2008)
Jadi secara umum, kebaikan dan kelemahan pembelajaran kooperatif  tipe TGT dapat dibedakan menjadi berikut :
Ø Kelebihan :
a.    Meningkatkan harga diri tiap individu
b.    Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar
c.    Konflik antar pribadi berkurang
d.   Sikap apatis berkurang
e.    Pemahaman yang lebih mendalam
f.     Retensi atau penyimpanan lebih lama
g.    Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
h.    Meningkatkan kemajuan belajar (pencapaian akademik)
i.      Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif
j.      Menambah motivasi dan percaya diri
k.    Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi teman-teman sekelasnya
l.      Mudah diterapkan dan tidak mahal
m.  Penerapan pembelajaran TGT dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pelajaran, membantu mengaktifkan kemampuan siswa untuk bersosialisasi dengan siswa lain. Siswa terbiasa bekerja sama dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar. (Muflihah, 2009)
Ø Kelemahan:
a.    Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan di kelas. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran dilakukan di luar kelas seperti di laboratorium matematika, aula atau di tempat yang terbuka.
b.    Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah didapatnya dalam kelompok sehingga ada pertanggungjawaban secara individu. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dapat memotivasi belajar siswa dimana kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan.








DAFTAR PUSTAKA

Khasanah,Nur.2006. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Game Tournament (TGT) dan Numbered Head Together (NHT) terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa di SMP N 1 Padamara Purbalingga, Skripsi.

Kiranawati.2007.  Strategi Pembelajaran Kooperatif. Tersedia di http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ekonomi-pembangunan/article/view/5501. Diak-ses tanggal 23 September 2010.

Kusno. 2005. Diktat Belajar Pembelajaran.  Tidak Dipublikasikan. UMP: Purwokerto.
Slavin. 2008. Cooperative Learning. Nusa Media: Bandung.
Slavin. 2008. Pembelajaran Tipe Time Game Tournament. Tersedia di: http://mahmuddin.wordpress.com/2009/12/23/strategi-pembelajaran-koope-ratif-tipe-teams-games-tournament-tgt/. Diakses tanggal 23 September 2010.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Prenada Media : Jakarta.

-----------. 2006. Pembelajaran. Tersedia di http://learning-with-me.blogspot.com/2006/09/pembelajaran/html#33.

------------. 2007.  Metode Teams Games Tournament. Tersedia di http://gurupkn.wordpress.com2007/11/13/metode-team-games-tournament-tgt. Diakses   tanggal 23 September 2010.

------------. 2009. Metode TGT.  Tersedia di http://ktiptk.blogspirit.comarchive/2009/01/26/tgt.html. Diakses tanggal 23 September 2010.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar