Kamis, 14 Maret 2013

Inkuiri


STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI

A.    PENGERTIAN
Istilah Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan Inquiry (penyelidikan), Sund (1975) berpendapat bahwa Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Sedangkan Inquiry adalah perluasan proses Discovery yang digunakan lebih mendalam.(Suryo Subroto, 2002:193)
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Schmidt, 2003). Inkuiri sebenarnya merupakan prosedur yang biasa dilakukan oleh ilmuwan dan orang dewasa yang memiliki motivasi tinggi dalam upaya memahami fenomena alam, memperjelas pemahaman, dan menerapkannnya dalam kehidupan sehari-hari.
(Hebrank, 2000; Budnitz, 2003; Chiapetta & Adams, 2004).
 Ada berbagai rumusan tentang pengajaran berdasarkan inkuiri, antara yang satu dengan yang lainnya berbeda secara gradual. Diantara rumusan itu adalah: “Diskover terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses-proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip”. Rumusan ini menggambarkan, bahwa diskover dilakukan melalui proses mental, yakni observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, dan penentuan. Proses-proses tersebut disebut Discovery Cognitive Process. Sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concept and priciples in the mind. Pengajaran inkuiri dibentuk atas dasar diskoveri, sebab seorang siswa harus menggunakan kemampuannya berdiskoveri dan kemampuan lainnya.
Rumusan lainnya menyatakan, “Pengajaran berdasarkan inkuiri adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa dimana kelompok siswa inquiry kedalam suatu isu atau mencari jawaban-jawaban terhadap isi pertanyaan melalui suatu prosedur yang digariskan secara jelas dan struktural kelompok. (Oemar Hamalik, 2005: 219-220).
Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis da analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan. (Wina Sanjaya, 2007: 194)
Selain itu inkuiri dapat merupakan suatu kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematik, kritis, dan analisis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. (W.Gelly, 1984: 190-191)

B.     TUJUAN PEMBELAJARAN INKUIRI
Metode pembelajaran inkuiri di samping mengantarkan siswa pada tujuan instruksional tingkat tinggi, tetapi dapat juga memberi tujuan iringan ( nutrunant effect ) sebagai berikut:
1) Memperoleh keterampilan untuk memproses secara Ilmiah ( mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasikan data,mengidentifikasikan variabel, merumuskan, danmenguji hipotesis, serta mengambil kesimpulan ).
2) Lebih berkembangnya daya kreativitas anak.
3) Belajar secara mandiri.
4) Lebih memahami hal-hal yang mendua.
5) Perolehan sikap ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang menerimanya secara tentatif (Gulo, 2002:101)

C.    CIRI-CIRI PEMBELAJARAN INKUIRI
Inquiry (kegiatan menemukan). Metode inquiry berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inquiry adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperolah sendiri oleh siswa. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri, antara lain:
  1. Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pendekatan inkuiri dapat menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
  2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahakan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapakan dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
  3. Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
(Wina Sanjaya, 2007: 194-195).

D.    SASARAN PEMBELAJARAN INKUIRI
Sasaran dari pembelajaran inkuiri ada 2, yaitu sasaran kognitif dan afektif.
1)      Sasaran Kognitif
·         Memahami bidang  khusus dari materi pembelajaran
·         Mengembangkan kemampuan bertanya dan memecahkan masalah
·         Menerapkan pengetahuan dengan situasi baru yang berbeda
·         Mengevaluasi dan mensintesis informasi, ide dan masalah baru
·         Memperkuat ketrampilan berfikir kritis
2)      Sasaran Afektif
·         Mengembangkan minat kepada pelajaran dan bidang ilmu
·         Memperoleh apresiasi untuk pertimbangan moral dan etika yang relevan dengan bidang ilmu tertentu
·         Meningkatka intelektual dan integritas
·         Mendapatkan kemampuan untuk belajar dan menerapkan materi pengetahuan (Gebi Dwiyanti, 2010)

E.     TINGKATAN-TINGKATAN INKUIRI
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topik masalah, sumber masalah atau pertanyaan, bahan, prosedur atau rancangan kegiatan, pengumpulan dan analisis data serta pengambilan kesimpulan Bonnstetter (2000) membedakan inkuiri menjadi tiga tingkat yaitu praktikum (tradisional hands-on), pengalaman sains terstruktur (structured science experiences), dan inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry ),. Klasifikasi inkuiri menurut Bonnstetter (2000) didasarkan pada tingkat kesederhanaan kegiatan siswa dan dinyatakan sebaiknya penerapan inkuiri merupakan suatu kontinum yaitu dimulai dari yang paling sederhana terlebih dahulu:
1.      Praktikum ( tradisional hands-on ) adalah tipe inkuiri yang paling sederhana. Dalam praktikum guru menyediakan seluruh keperluan mulai dari topik sampai kesimpulan yang harus ditemukan siswa dalam bentuk buku petunjuk yang lengkap. Pada tingkat ini komponen esensial dari inkuiri yakni pertanyaan atau masalah tidak muncul, oleh karena itu, Martin-Hansen (2002), menyatakan bahwa praktikum tidak termasuk kegiatan inkuiri.
2.      Pengalaman sains yang terstruktur ( structured science experiences ), yaitu kegiatan inkuiri di mana guru menentukan topik, pertanyaan, bahan dan prosedur sedangkan analisis hasil dan kesimpulan dilakukan oleh siswa. Jenis yang ketiga ialah inkuiri terbimbing ( guided inquiry ), di mana siswa diberikan kesempatan untuk bekerja merumuskan prosedur, menganalisis hasil dan mengambil kesimpulan secara mandiri, sedangkan dalam hal menentukan topik, pertanyaan dan bahan penunjang, guru hanya berperan sebagai fasilitator.
3.      Inkuiri siswa mandiri ( student directed inquiry ), dapat dikatakan sebagai inkuiri penuh (Martin-Hansen, 2002) karena pada tingkatan ini siswa bertanggungjawab secara penuh terhadap proses belajarnya, dan guru hanya memberikan bimbingan terbatas pada pemilihan topik dan pengembangan pertanyaan. Tipe inkuiri yang paling kompleks ialah penelitian siswa ( student research ). Dalam inkuiri tipe ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing sedangkan penentuan atau pemilihan dan pelaksanaan proses dari seluruh komponen inkuiri menjadi tangungjawab siswa.
(Muslimin Ibrahim, 2007)

F.     PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN PEMBELAJARAN INKUIRI
Pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan intelektual anak. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu Maturattion, Physical Experience, Social Experience dan Equilibration.
  1. Maturattion atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan system saraf.
  2. Physical Experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya.
  3. Social Experience adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain.
  4. Equilibiration adalah proeses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan yang baru ditemukan.
Atas dasar penjelasan diatas, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat berberapa prinsip yang harus diperhatikan, antara lain:
  1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.  
  1. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antar siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.    
  1. Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
  1. Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (Learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. 
  1. Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu siswa perlu di berikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya.
(Wina Sanjaya, 2007: 196-199).

G.    LANGKAH PELAKSANAAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
Tabel. 1 Sintak Metode Pembelajaran Inkuiri
FASE
KEGIATAN
1. Orientasi masalah
Ø  Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
Ø  Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
Ø  Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar
2. Merumuskan Masalah
Ø  Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
Ø  Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
Ø  Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
3. Merumuskan Hipotesis
Ø  Mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data
Ø  Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat berpikir mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji Hipotesis
Ø  Mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan
6. Merumuskan Kesimpulan
Ø  Menunjukan data mana yang relevan
(Wina Sanjaya, 2007: 200-203

H.    STRATEGI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM KELAS
Strategi pelaksanaan pembelajaran inkuri dalam kelas adalah Discovery-Oriented Inquiry dan Policy-Based Inquiry.
1.                                                                              Inkuiri Berorientasi Diskoveri (Discovery-Oriented Inquiry)
Inkuiri berorientasi menunjuk pada situasi-situasi akademik dimana kelompok-kelompok kecil siswa (umumnya antara 4 sampai 5 anggota) berupaya menemukan jawaban-jawaban atas topik-topik inkuiri. Dalam situasi tersebut para siswa dapat menemukan konsep atau rincian infor,asi. Model ini dapat dilaksanakan kepada seluruh kelas sebagai bagian dari kegiatan-kegiatan inkuiri, yang disebut Social Inquiry.
Asumsi-asumsi yang mendasari model inkuiri ini ialah:
  1. Ketrampilan berpikir kritis dan berpikir deduktif yang diperlukan berkaitan dengan pengumpulan data yang bertalian dengan kelompok hipotesis.
  2. Keuntungan bagi siswa dari pengalaman kelompok dimana mereka berkomunikasi, berbagi tanggung jawab, dan bersama-sama mencari pengetahuan.
  3. Kegiatan-kegiatan belajar disajikan dengan semangat berbagai inkuiri dan diskoveri menambah motivasi dan memajukan partisipasi.
Penggunaan Strategi Inkuiri Berorientasi Diskoveri dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi dan merumuskan situasi yang menjadi focus inkuiri secara jelas.
  2. Mengajukuan suatu pertanyaan tentang fakta.
  3. Memformulasikan hipotesis atau beberapa hipotesis untuk menjawab pertanyaan pada langkah 2.
  4. Mengumpulkan informasi yang relevan dengan hipótesis dan menyatakan jawaban sebagai proporsi tentang fakta.  

2.                                                                              Inkuiri Berdasarkan Kebijakan (Policy-Based Inquiry)
Inkuiri berdasarkan kebijakan adalah suatu bentuk inkuiri yang lebih proaktif yang berkenaan dengan adnya proposisi-proposisi kebijakan, yakni pertanyaan ”Apa yang harus”, yang berorientasi pada tindakan, hal mana bertentangan dengan proposisi fakta pernyataan tentang ”Apa”.
Pendekatan ini dilandasi oleh asumsi bahwa:
  1. Tujuan utama pendidikan harus menjadi ulangan refflektif terhadap nilai-nilai dan isu-isu penting dewasa ini.
  2. Ilmu sosial harus dipelajari dalam pelajaran tentang upaya untuk mengembangkan solusi-solusi masalah-masalah yang berarti.
  3. Situasi-situasi inkuiri memungkinkan siswa mengembangkan kesadaran dan memfasilitasi tentang peran dan fungsi kelompok serta teknik-teknik pembuatan keputusan.   
Model inkuiri ini dilaksanakan oleh kelompok dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Membentuk kelompok-kelompok inkuiri. Masing-masing kelompok dibentuk berdasarkan rentang intelektual dan ketrampilan-ketrampilan sosial.
  2. Memperkenalkan topik-topik inkuiri kepada sesama kelompok. Tiap kelompok diharapkan memahami dan berminat mempelajarinya.
  3. Membentuk proposisi tentang kebijakan yang bertalian dengan topik, yakni pertanyaan apa yang harus dikerjakan.
  4. Merumuskan semua istilah yang berkembang dalam proposisi kebijakan.
  5. Menyelidik validitas logis dan konsistensi internal pada proposisi dan unsur-unsur penunjangnya.
  6. Mengumpulkan evidensi (bukti) untuk menunjang unsur-unsur/isi proposisi.
  7. Menganalisis solusi-solusi yang diusulkan dan mencari posisi kelompok.
  8. Menilai proses kelompok. (Oemar Hamalik, 2005: 220-224).

I.       PENDEKATAN INKUIRI
Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria ialah kejelasan, kesesuaian ketepatan dan kerumitannya. Setelah guru mengundang siswa untuk mengajukan masalah yang erat hubungannya dengan pokok bahasan yang akan diajarkan, siswa akan terlibat dalam kegiatan inquiry dengan melalui 5 fase ialah:
Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti.
Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi.
Fase 3 : siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis sehingga diperoleh hubungan sebab akibat.
Fase 4 : merumuskan penemuan inquiry hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal.
Fase 5 : melakukan analisis terhadap proses inquiry, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah pada mencari sebab akibat.
      Agar teknik dalam fase-fase diatas dapat dilaksanakan dengan baik maka memerlukan kondisi-kondisi sebagai berikut :
a.       Kondisi yang fleksibel, bebas untuk berinteraksi
b.      Kondisi lingkungan yang responsive
c.       Kondisi yang memudahkan untuk memusatkan perhatian
d.      Kondisi yang bebas dari tekanan
Dalam teknik inkuiri seorang guru berperan untuk :
a.       Menstimulir dan menantang siswa untuk berfikir
b.      Memberikan fleksibilitas atau kebebasab untuk berinisiatif dan bertindak
c.       Memberikan dukungan untuk “inkuiri”
d.      Menentukan diagnose kesulitan-kesulitan siswa dan membantu mengatasinya
e.       Mengidentifikasi dan menggunakan “teach able moment”  sebaik-baiknya
Hal-hal yang perlu distimulir dalam proses belajar melalui “inkuiri” :
a.       Otonom siswa
b.      Kebebasan dan dukungan pada siswa
c.       Sikap keterbukaan
d.      Percaya pada diri sendiri dan kesadaran akan harga diri
e.       Self-concept
f.       Pengalaman inkuiri, terlibat dalam masalah-masalah     (Roestiyah N.K, 2008: 79-80)
J.      KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN INKUIRI
1)      Keunggulan yang dapat dikemukakan dari inkuiri adalah sebagai berikut :
a.       Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik.
b.      Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi baru.
c.       Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.
d.      Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
e.       Memberi kepuasan yang bersifat intrinsic.
f.       Situasi proses belajar jadi lebih merangsang kerja otak.
g.      Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.
h.      Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
i.        Dapat menghindarkan siswa dari cara-cara yang tradisional.
j.        Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. (Roestiyah N.K, 2008: 76-77)
k.       Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar. (Akhmad Sudradjat, 2007)
2)      Kelemahan Inkuiri
a.       Jika SPI digunakan sebagai pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b.      Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering kali guru sulit menyesuaikan dengan waktu yang ditentukannya.
d.      Selama criteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru. (Wina Sanjaya, 2010: 208-209)














DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. ”Strategi Belajar Mengajar”. Jakarta : Rineka Cipta.
Damayanti, Gebi. 2009. ”Model Pembelajaran Inkuiri”. Jakarta : Rineka Cipta.

Tersedia di http://gebi.blogspot.com/2010/07/model-pembelajaran-inkuiri.html Diakses pada tanggal 25 September 2010.

Hermalik, Oemar. 2005. “Proses Belajar Mengajar”. Jakarta : Bumi Aksara.
Herfis. 2009. “Pembelajaran Inkuiri”. Jakarta : Bumi Aksara.
Tersedia di http://herfis.blogspot.com/2009/07/pembelajaran-inkuiri.html  Diakses pada tanggal 01 Oktober 2010.
Ibrahim, Muslimin. Selasa, 24 Juli 2007. “Pembelajaran Inkuiri”. Jakarta : Rineka Cipta.
Subroto, Suryo. 2002. ”Proses Belajar Mengajar di Sekolah”. Jakarta: Rineka Cipta. 2002.
Roestiyah, N.K. 2008. “Strategi Belajar Mengajar”. Jakarta : Rineka Cipta.
Wina Sanjaya. 2007 ”Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan”. Jakarta: Kencana.

Winatapura, U. S. 1993. Strategi belajar mengajar IPA. Jakarta: Universitas Terbuka Depdikbud.

Tersedia di http://ahmad_sudrajat.wordpress.com/2011/09/12/pembelajaran_inkuiri/  Diakses pada tanggal 17 September 2011.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar